Ini ungkapan syukur saya saat mendapat kesempatan untuk mengajar anak kecil. Alhamdulillah saya berkesempatan menjadi freelance trainer di salah satu bimbel robotika Cimahi. Bagian yang saya ajar adalah anak-anak TK, SD kelas 1 dan 2. Yang diajarin juga termasuk gampang, hanya membuat kontruksi dari Lego, belum sampai programming.
Saya itu sebenarnya ga terlalu tertarik main sama anak kecil. Kalau sama bayi seneng, itupun senengnya cuma ngacak-ngacak dan aduk-aduk pipi tembem dan belly buncit mereka doang hehehe πππ Kalau sama anak kecil males banget. Waktu ustadzah saya lagi ngisi kajian, anak-anak beliau biasanya bakal cari 'ateu-ateu' yang bisa diajak main, lalu kukunci pintu kamar (kamar teman saya yang lagi saya tongkrongin) biar mereka nggak masuk wkwk ππ akhirnya diriku jadi ketiduran didalam kamar. Ga terlalu alergi banget sih sama anak kecil, kadang suka ngajak ngobrol mereka, nanya-nanya ke mereka dengan 1 atau 2 pertanyaan.
Tapi aku berpikir yang kaya gini nggak bisa dibiarkan, nanti kalau saya punya anak gimana? Masa males-malesan sama mereka? Maka ketika teman saya nawarin kerjaan ini, langsung bismillah, saya lamar. Diniatkan karena:
1. Belajar dan membiasakan menghadapi anak kecil.
2. Belajar mengontrol emosi dan ekspresi. Biar nggak lempeng-lempeng banget jadi cewek, nanti pada takut lagi hehe. Terus ngendaliin segerombol anak kecil nggak semudah menertibkan 300 mahasiswa ribut di sebuah seminar. Gimana caranya biar nggak jadi ngebentak anak-anak tapi suaranya tetap lantang di tengah keributan, nah ini perlu latihan.
3. Kerjasama tim dengan trainer yang lain dan belajar tanggung jawab. Karena ada beberapa kewajiban lain bagi seorang freelance trainer, nah bagaimana agar melaksanakan kewajiban tersebut dengan displin bukan karena dorongan takut pada boss, melainkan sadar akan tanggung jawab.
4. Manajemen waktu, apalagi disambi kuliah.
5. Manajemen uang, bagaimana fee jangan sampai habis tak terasa bahkan nggak tau habis sama apa dan habisnya itu karena keinginan semata, bukan karena kebutuhan.
Sudah sebulan kurang dijalani, tentu masih banyak yang harus diri ini evaluasi setiap malam. Daaaan... saya menemukan banyak drama ketika proses belajar mengajar. Ya ada yang bertengkar karena nggak mau sekelompok lah, ya ada yang pengen emaknya ikut di kelas lah, ya ada siswa yang bukan ekskul robotika tapi nangis badai ingin ikut main lah, ya ada siswa tiba-tiba hilang ditengah belajar lah, dan masih banyak lagi. Gustiiii... rasanya seperti ingin mengumpulkan anak-anak kucing ke 1 kardus, eh tapi yang sudah masuk kardus keluar lagi, dimasukin keluar lagi, gitulah haha πππ dinikmati ajalah dinamika ini, sambil konsultasi dengan teteh-teteh aktivis yang juga menjadi guru anak agar bagaimana menjalin komunikasi ketika ada konflik-konflik seperti diatas. Karena kalau ketemu konflik diatas, saya sendiri masih kebawa emosi dan senjata terakhir saya adalah "kalau kamu masih kaya gitu, kamu nggak boleh ikut main"
Alhamdulillah di kantor pun setiap minggu ada rapat rutin untuk evaluasi dan selesai rapat ada trainer yang akan latihan presentasi didepan trainer lain. Ini cukup untuk menjadi alat ukur dan evaluasi kinerja saya, apalagi nanti kalau bagian saya untuk presentasi sudah tiba.

Komentar
Posting Komentar